Waspadai Masuknya Paham Radikalisme Melalui Lembaga Pendidikan

Waspadai Masuknya Paham Radikalisme Melalui Lembaga Pendidikan

Waspadai Masuknya Paham Radikalisme Melalui Lembaga Pendidikan

Waspadai Masuknya Paham Radikalisme Melalui Lembaga Pendidikan
Waspadai Masuknya Paham Radikalisme Melalui Lembaga Pendidikan

Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Surabaya diwarnai dengan aksi unjuk rasa dari berbagai elemen mahasiswa. Aksi ini menyoroti persoalan-persoalan pendidikan, termasuk menyusupnya paham intoleransi dan radikalisme di lembaga pendidikan.
SURABAYA, JAWA TIMUR —

Aksi unjuk rasa yang digelar di depan kantor Dinas Pendidikan Kota Surabaya,

diikuti puluhan mahaiswa dari berbagai elemen, seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), danHimpunan Mahasiswa Islam (HMI) Surabaya.

Menurut Ketua GMNI Cabang Surabaya, Rizal Hakiki, akses pendidikan bagi masyarakat miskin di Kota Surabaya masih menjadi sorotan, mengingat masih ditemukan beberapa kasus anak putus sekolah karena tidak mampu secara ekonomi.

“Banyak sekali masyarakat menengahke bawah yang kurang mendapatkan hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tujuan kami ini datang ke sini adalah untuk menuntut adanya kebijakan yangbisa berpengaruh kepada golongan menengah ke bawah, atau yang kurang ditangani dalam hal pendidikan,” kata Rizal Hakiki.

Selain persoalan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak dan terjangkau, Esradus dari PMKRI Cabang Surabaya menyoroti indikasi masuknya paham-paham intoleransi dan radikalisme di lembaga pendidikan. Esradus mengatakan, itu harus diantisipasi oleh sekolah dan pemerintah kota.

“Sekarang dunia pendidikan sudah mulai dimasuki oleh paham-paham radikalisme

dan paham-paham yang mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara. Kami mengkritisi bahwa pemerintah belum terlalu menekankan pendidikan agama yang berbasis kenegaraan,” jelas Esradus.

Masuknya materi intoleransi dan radikalisme dalam buku lembar kerja siswa di salah satu sekolah di Jakarta, Jawa Barat dan Jombang, Jawa Timur, menjadi bukti paham radikalisme dan intoleransi telah masuk ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Rizal Hakiki mendesak adanya kanalisasi dan pecegahan, terutama bagi guru pengajar di sekolah untuk tidak sampai mengajarkan materi terkait intoleransi dan radikalisme kepada para murid.

“Harus ada pencegahan dari pihak sekolah sendiri, utamanya dalam kebijakan

di sekolah untuk menetapkan standarisasi terhadap guru itu sendiri, apakah guru itu sendiri nantinya akan menanamkan nilai-nilai radikalisme di dalam pola pendidikannya, ataukah nantinya dia akan menanamkan pola-pola radikalisme itu dalam sistem ketiak dia mengajarkan pendidikannya di dalam kelas, atau pun di luar kelas, ekstrakulikuler misalnya,” kata Rizal Hakiki.

 

Sumber :

https://www.viki.com/users/danuaji88/about