Sejarah Muhammadiyah MASA SETELAH KEMERDEKAAN

Sejarah Muhammadiyah MASA SETELAH KEMERDEKAAN
Sejarah Muhammadiyah MASA SETELAH KEMERDEKAAN

Sejarah Muhammadiyah MASA SETELAH KEMERDEKAAN

Sejarah Muhammadiyah MASA SETELAH KEMERDEKAAN

Setelah Ki Bagus Hadikusumo

kepemimpinan Muhammadiyah berlanjut ke Ahmad Rasyid Sutan Mansyur. Ia memimpin Muhammadiyah sejak 1952 hingga 1959. Periode ini, Sutan Mansyur memperkuat Ruh Tauhid, salah satunya dengan adanya Khittah Palembang.

Beberapa kegiatan yang yang penting antara lain Sidang Tanwir yang membahas Konsepsi Negara Islam di Pekajangan, Pekalongan pada 1955, Sidang Tanwir pada 1956 yang salah satu isinya masalah politik bagi Muhammadiyah diserahkan pada partai Masyumi. Partai ini menjadi bagian terpenting dalam perkembangan sejarah Muhammdiyah.

Pada 1959, Ketua umum Muhammadiyah kembali berganti ke HM Yunus Anis. Yunus Anis dikenal sebagai organisator yang ulung. Ia sempat menjadi Pembina Hizbul Wathan hingga menjadi Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di era kepemimpinan Sutan Mansyur.

Pada periode kepemimpinan Yunus Anis, negara mengalami goncangan sosial politik yang cukup besar, namun ia berhasil membawa Muhammadiyah terus berjalan menetap pada jati dirinya. Majelis Pustaka menjadi salah satu yang paling menonjol perannya dalam periode ini. Muhammadiyah mulai membenahi dokumentasi, juga penulisan yang ditujukan untuk penelitian. Selain mengumpulkan arsip-arsip, Majelis Pustaka juga menghasilkan penerbitan buku riwayat hidup dan Almanak Muhammadiyah. HM Yunus menjadi ketua Muhammadiyah hingga 1962.

Berlanjut pada 1962, Muhammadiyah menunjuk KHA Badawi sebagai ketua umum. Kiai Haji Ahmad Badawi merupakan tokoh yang luas wawasannya dan pengetahuan agamanya dapat diterima semua kalangan. Di bawak kepemimpinannya, Muhammadiyah dengan tegas bersikap memerangi PKI dan antek-anteknya.

Pada masa itu, negara sedang menghadapi teror PKI. Sementara keadaan politik tidak menentu dan kondisi sosial ekonomi sangat buruk, dibuktikan dengan potret kemiskinan yang ada dimana-mana. KHA Badawi secara tegas menyatakan “Membubarkan PKI adalah Ibadah”.

Dua pasukan yang disiapkan Muhammadiyah saat G 30 S PKI pecah adalah Tapak Suci dan KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah). Muhammadiyah diberikan fungsi politis oleh pemerintah untuk dapat duduk di DPR dan MPR sehingga bisa memerangi PKI. Namun setelah keadaan mereda, Muhammadiyah kembali ke khittahnya menjadi organisasi keagamaan yang bergerak di bidang sosial. KHA Badawi memimpin Muhammadiyah hingga 1968.


Baca Juga :

Comments are closed.