Sejarah Muhammadiyah MASA SEBELUM KEMERDEKAAN (1923-1942)

Sejarah Muhammadiyah MASA SEBELUM KEMERDEKAAN (1923-1942)
Sejarah Muhammadiyah MASA SEBELUM KEMERDEKAAN (1923-1942)

Sejarah Muhammadiyah MASA SEBELUM KEMERDEKAAN (1923-1942)

Sejarah Muhammadiyah MASA SEBELUM KEMERDEKAAN (1923-1942)

Masa Sejarah Muhammadiyah  selanjutnya yaitu saat sebelum kemerdekaan. Periode ini berlangsung pada 1923 hingga 1942. Terdapat 3 ketua umum yang menjabat di antara tahun-tahun tersebut setelah K.H ahmad Dahlan sudah tidak menjadi ketua. Kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan dilanjutkan oleh K. H Ibrahim, yang merupakan adik iparnya, atau adik kandung istri Ahmad Dahlan, yakni Nyai Walidah.

Di bawah pimpinan K. H Ibrahim, Muhammadiyah mulai berkembang dan menyasar daerah-daerah di luar pulau Jawa, Sebagai ulama yang tak pernah mengenyam pendidikan model barat, K.H Ibrahim juga mulai mendirikan majelis tarjih sebagai unsur pembantu pimpinan Muhammadiyah.

Juga ada dua ordo organisasi Muhammadiyah dari golongan pemuda, yakni Nasyiatul Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah. Pada era kepemimpinan K. H Ibrahim juga mulai diadakan Muktamar selain di Yogyakarta, antara lain di Surabaya, Surakarta, Pekalongan, Bukittinggi, Ujung Pandang (Makassar) dan Semarang.

Beberapa aktivitas yang menjadi unggulan antara lain pendirian “Fonds Dachlan” yakni sebuah yayasan untuk membiayai sekolah anak-anak kurang mampu pada 1924, mengadakan khitanan massal untuk pertama kali pada 1925, pemakaian tahun Islam dalam pencatatan surat- menyurat dan Sholat Hari Raya di lapangan pada Muktamar 1926 Surabaya.

Juga keputusan Muhammadiyah tidak berpolitik namun hanya memperbaiki akhlak orang yang berpolitik (tidak melarang anggotanya untuk berpolitik praktis) pada Muktamar 1927 di Pekalongan. K.H Ibrahim menjadi ketua Muhammadiyah hingga 1932.

Setelah era kepemimpinan K.H Ibrahim, Muhammadiyah dipimpin oleh K.H Hisyam dari 1932 hingga 1936. K.H Hisyam merupakan murid langsung dari K.H Ahmad Dahlan dan diresmikan menjadi ketua umum Muhammadiyah dalam muktamar di Yogyakarta pada 1934.

Pada masa kepemimpinan K.H Hisyam, pendidikan menjadi salah satu hal yang paling menonjol karena menjadi fokus utama program-programnya. Pada muktamar 1934 misalnya, pengubahan nama sekolah berbahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia, Volkschool menjadi Sekolah Rakyat. Pada 1936, juga diputuskan untuk mendirikan sekolah tinggi dan mendirikan Majelis Pertolongan & Kesehatan Muhammadiyah (MPKM). K. H Hisyam juga menertibkan administrasi organisasi seperti daftar anggota, buku notulen rapat, buku keuangan dan sebagainya.

Pada Oktober 1936, era kepemimpinan beralih ke K.H Mas Mansyur. K.H Mas Mansyur dikenal sebagai tokoh yang kreatif serta pemberani sehingga aktif dalam pemurnian kembali paham agama yang menjadi garis besar di Muhammadiyah.

Dua program yang menonjol dari K.H Mas Mansyur adalah pemanfaatan Majelis Tarjih dengan membuat “Masalah Lima” (Dunia, Agama, Qiyas, Sabilillah, dan Ibadah) serta “Langkah Dua Belas” untuk mengggerakkan Muhammadiyah lebih dinamis dan berbobot. Program ini begitu penting dalam sejarah muhammadiyah di Indonesia.

Beberapa kegiatan yang menjadi unggulannya yaitu, pembentukan Bank Muhammadiyah pada muktamar 1937, ikut mempelopori MIAI (Majelisul Islam A’la Indonesia), menentang pelarangan guru mengajar di sekolah Muhammadiyah oleh Belanda (Ondewijs Ordonansi) hingga mengeluarkan gerakan menghimpun dana untuk kaum dhu’afa (Franco Amal). K.H Mas Mansyur memimpin Muhammadiyah hingga 1942.


Sumber: https://priceofcialisrnx.com/2020/04/cytus-ii-apk/

Comments are closed.