Runtuhnya Kerajaan Singhasari

Runtuhnya Kerajaan Singhasari

Runtuhnya Kerajaan Singhasari

Kertanegara mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman dari Khubilai Khan. Lalu Kertanegara menganiaya dan melukai seorang utusan Khubilai Khan yang meminta tunduk dari raja Kertanegara. Kemudian Khubilai Khan merasa terhina dan mengadakan perang untuk menggempur Jawa. Bersamaan dengan itu, Jayakatwang yang memerintah Kediri menyerang Singhasari karena berupaya ingin melepaskan Kediri dari kekuasaan Singhasari. Dalam serangan sengit ini Kertanegara mati terbunuh dan Singhasari dapat direbut. Raden Wijaya telah berhasil melarikan dirinya ke Pulau Madura.

Riwayat Singhasari kemudian berakhir dan pusat kerajaan yang sekarang telah pindah ke Kediri. Raja Kertanegara dicandikan di Singhasari dengan tiga arca perwujudan, yang melambangkan trikarya, yaitu sebagai Siwa Buddha dalam bentuk Bhairawa yang melambangkan nirmanakarya, sebagai Ardhanari lambing sambhogakaya, dan sebagai Jina dalam bentuk Aksbhya yang melambangkan dharmmakaya.

Kehidupan Politik, Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Agama

Ketika Ken Arok menjadi Akuwu di Tumapel, berusaha meningkatkan kehidupan masyarakatnya. Banyak daerah – daerah yang bergabung dengan Tumapel. Namun pada masa pemerintahan Anusapati, kehidupan kehidupan sosial masyarakat kurang mendapat perhatian, karena ia larut dalam kegemarannya menyabung ayam. Pada masa Wisnuwardhana kehidupan sosial masyarakatnya mulai diatur rapi. Dan pada masa Kertanegara, ia meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya.

Keadaan perekonomian Kerajaan Singasari yaitu ikut ambil bagian dalam dunia pelayaran. Keadaan ini juga didukung oleh hasil – hasil bumi.

Ditemukan peninggalan candi – candi dan patung – patung diantaranya candi Kidal, candiJaga, dan candi Singasari. Sedangkan patung – patung yang ditemukan adalah patung Ken Dedes sebagai Dewa Prajnaparamita lambang kesempurnaan ilmu, patung Kertanegara dalam wujud patung Joko Dolog, dan patung Amoghapasa juga merupakan perwujudan Kertanegara (Kedua patung Kertanegara baik patung Joko Dolog maupun Amoghapasa menyatakan bahwa Kertanegara menganut agama Buddha beraliran Tantrayana).

Diangkat seorng Dharmadyaksa (kepala agama Buddha). Disamping itu ada pendeta Maha Brahmana yang mendampingi Raja, dengan pangkat Sangkhadharma. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara didharmakan sebagai Syiwa Buddha di candi Jawi, di Sagala bersama – sama dengan permaisurinya yang diwujudkan sebagai Wairocana Locana, dan sebagai Bairawa di candi Singasari. Terdapat prasasti pada lapik (alas) arca Joko Dolog yang ada di taman Simpang di Surabaya, yang menyebutkan bahwa Kertanegara dinobatkan sebagai Jina atau Dhyani Buddha yaitu sebagai Aksobya. Sedangkan arca Joko Dolog itu sendiri merupakan arca perwujudannya. Sebagai seorang Jina ia bergelar Jnanasiwabajra.

sumber: https://belinda-carlisle.com/microsoft-perbarui-outlook-untuk-android-dengan-fitur-grup/

Comments are closed.