Rasuna Said memilih pergi ke Medan, Sumatera Utara

Rasuna Said memilih pergi ke Medan, Sumatera Utara

Peran Hajjah Rangkayo Rasuna Said di Bidang Pendidikan

Rasa kepedulian Rasuna Said pada dunia pendidikan mulai tertanam saat dirinya menjadi murid di Sekolah Diniyah. Rasuna Said merupakan salah satu pengajar di Sekolah Diniyah Putri. Pandangan Rasuna Said mengemukakan bahwa setidaknya seorang pelajar perlu dilengkapi dengan berbagai macam kepandaian untuk mereka yang akan berkecimpung dalam pergerakan.30 Pendidikan politik penting untuk murid-murid sebagai upaya keluar dari belenggu penjajah. Rahmah El Yunusiyah31 merasa cemas dengan perilaku murid-muridnya pasca ajaran politik yang diberikan Rasuna Said. Tidak sedikit murid-murid yang menggandrungi dan terpengaruh dengan pola pikir Rasuna Said.32 Beberapa tokoh yang disegani akhirnya membuat diskusi yang memutuskan agar Rasuna Said dipindahkan dari Sekolah Diniyah Putri.
Perjuangan Rasuna Said tidak sepenuhnya berhenti disini, dirinya memberikan Kursus Pemberantasan Buta Huruf dengan nama Sekolah Menyesal, membuka Sekolah Thawalib kelas Rendah di Padang dan mengajar di Sekolah Thawalib Puteri, serta memimpin Kursus Putri dan Kursus Normal di Bukittinggi.33 Pasca terjadi perselisihan pendapat dan bubarnya Permi di tahun 1937, Rasuna Said memilih pergi ke Medan, Sumatera Utara. Ia mendirikan sekolah yang diberi nama Perguruan Puteri. Lembaga pendidikan ini diperuntukkan khusus bagi perempuan.

C. Peran Hajjah Rangkayo Rasuna Said di Bidang Jurnalistik

Rasuna Said bergabung dalam kegiatan kepenulisan atau jurnalistik saat menempuh pendidikan di Islamic College. Ia terpilih menjadi pimpinan redaksi atau pimred sebuah majalah pada 1935. Majalah ini diberi nama majalah “Raya” yang dikenal radikal bahkan tercatat menjadi tonggak perlawanan di Sumatra Barat. Namun polisi rahasia Belanda (PID) mempersempit ruang gerak Rasuna dan kawan-kawan.
Rasuna Said memutuskan untuk pergi ke Medan pasca bubarnya Permi. Ia menuangkan bakat jurnalistiknya dengan menerbitkan sekaligus sebagai pimpinan redaksi sebuah majalah bernama Menara Poetri. Majalah ini berdiri pada tahun 1937 dengan fokus bahasan tentang keputrian dan keislaman.


Sumber: https://ngegas.com/

Comments are closed.