Pengertian Fabel, Jenis dan Ciri-Cirinya

Pengertian Fabel, Jenis dan Ciri-Cirinya

Pengertian Fabel, Jenis dan Ciri-Cirinya

Pengertian Fabel, Jenis dan Ciri-Cirinya
Pengertian Fabel, Jenis dan Ciri-Cirinya

Pengertian Fabel

Fabel adalah salah satu dongeng yang menampilkan binatang sebagai tokoh utamanya. Tokoh tersebut dapat berfikir, berperasaan, berbicara, bersikap, dan berinteraksi seperti manusia. Fabel bersifat didaktis atau mendidik. Fabel digunakan sebagai kiasan kehidupan manusia dan mendidik masyarakat. Pujangga fabel pertama adalah Aesopus dari yunani atau dikenal dengan Aesop.

Jenis-jenis Fabel

Dilihat dari waktu kemunculannya, fabel dapat dikategorikan kedalam fabel klasik dan fabel modern.

1. Fabel Klasik

 Fabel klasik adalah cerita yang telah ada pada zaman dahulu, tetapi tidak diketahui persis waktu kemunculannya, yang diwariskan secara turun-menurun lewat sarana lisan. Cerita dalam fabel klasik sudah ada sejak zaman yunani klasik dan india kuno, seperti “jataka” dan “pancatantra”.

Di Indonesia cerita tersebut ditemukan di Melayu, Jawa, Sunda, dan Toraja. Dalam sastra Melayu dan Jawa, tokoh binatang itu adalah kancil, sedangkan pada sastra Sunda adalah kera, dan Toraja adalah kera hantu.

Ciri-ciri Fabel Klasik

  • Cerita sangat pendek
  • Tema sederhana
  • Kental dengan petuah/moral
  • Sifat hewani masih melekat

 

2. Fabel Modern

 Fabel modern adalah cerita yang muncul dalam waktu relatif belum lama dan sengaja ditulis oleh pengarang sebagai ekspresi kesastraan. Dilihat dari jumlahnya, fabel modern lebih banyak daripada fabel klasik.

Tokoh-tokoh dalam fabel modern sangat beragam meliputi berbagai jenis binatang seperti burung, ikan, binatang hutan, atau binatang rumahan.

Contoh fabel modern “keledai yang dungu”, “gendon kembali ke sekolah”. Gendon adalah seekor anak gajah dari sekolah gajah.

Ciri-ciri Fabel Modern

  • Cerita bisa pendek atau panjang
  • Tema lebih rumit
  • Kadang-kadang berupa epik atau saga
  • Karakter setiap tokoh unik

 

Contoh Teks Fabel

Si Kancil dan Buaya

Si kancil sedang berjalan menuju hutan untuk kembali setelah mencari makan di ladang pak tani. Ditengah jalan ia harus menyebrangi sungai yang dihuni banyak sekali buaya yang sangat lapar.

Kawanan buaya sangat senang melihat kancil, tapi sikancil menyaratkan buaya harus dihitung terlebih dahulu. Buaya menyetujui dan si kancil  mulai menghitung jumlah buaya.

Akhirnya tipu daya si kancil berhasil, buaya tercengang karena si kancil yang cerdik berhasil memperdaya buaya. Si kancil langsung pergi setelah menghitung buaya terakhir di ujung sungai.

Si kancil pun langsung berlari ke dalam hutan dan bebas dari kawanan buaya yang lapar.

 

Baca Artikel Lainnya: