Indeks Integritas UN 2019 Membaik

Indeks Integritas UN 2019 Membaik

Indeks Integritas UN 2019 Membaik

Indeks Integritas UN 2019 Membaik
Indeks Integritas UN 2019 Membaik

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemdikbud, Totok Suprayitno

mengatakan, tak ada perubahan yang signifikan dari hasil UN SMA dan SMK 2019 dibandingkan dengan hasil UN sebelumnya. Pasalnya, kenaikan nilai per mata pelajaran (mapel) sangat tipis.

“Untuk jurusan IPA, mapel Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, dan Biologi mengalami peningkatan. Tetapi Kimia mengalami penurunan 0,22 poin dengan rata-rata nilai 50,91,” kata Totok di Jakarta, Selasa (7/5/2019).

Seiring dengan kenaikan hasil UN, Totok juga mengatakan, indeks integritas UN (IIUN) 2019

semakin baik. Pasalnya, beberapa kabupaten/kota yang sebagian siswanya beralih dari UN Kertas Pensil (UNKP) ke UNBK pada 2019 mengalami koreksi rerata nilai hingga 30 poin.

Nilai terkoreksi artinya nilai yang diperoleh saat ini merupakan nilai sesungguhnya dan merupakan cerminan capaian siswa. Sedangkan pada tahun sebelumnya, nilai siswa mengalami human error karena disebabkan beberapa alasan.

“Jadi untuk sekolah yang beralih dari UNKP menjadi UNBK, nilai terkoreksi ada yang mencapai 30 poin.

Disebut terkoreksi karena itu nilai mereka seharusnya segitu, karena UNBK meminimalkan segala kecurangan. Ketika UNKP mereka mendapat hasil hingga 65 poin, ternyata ketika menggunakan UNBK terkoreksi hingga 30 poin,” terangnya.

Hasil UN ini selain digunakan sebagai pemetaan, juga dapat dijadikan rujukan bagi dinas pendidikan dan pemerintah daerah (pemda) untuk melakukan pelatihan guru. Ke depannya para guru diharapkan tidak akan lagi dilatih secara umum, melainkan dilatih sesuai dengan kekurangannya sehingga kualitas pendidikan di wilayah itu semakin meningkat.

“Kita memang niatnya memberikan diagnosa sedetail mungkin, sehingga sekolah dapat menggunakan hasil UN ini sebagai alat refleksi. Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dapat menggunakan hasil UN untuk pelatihan guru. Pelatihan selama ini tampaknya belum masif, karena peningkatan UN masih sekitar nol koma,” ujarnya.

Selain itu, ia mengimbau sekolah untuk pro aktif setelah mendapat hasil UN. Sekolah dapat memanfaatkan skema zonasi dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Artinya, sekolah yang mengalami kekurangan di bidang tertentu harus segera belajar pada sekolah dalam zonasi yang unggul bidang tersebut.

Meski begitu, Totok menuturkan, penurunan nilai seperti Kimia belum dapat disampaikan penyebabnya. Pihaknya harus melakukan pendalaman untuk mendiagonisis permasalahannya lebih lanjut setelah panitia melakukan diagnosis secara menyeluruh

 

Sumber :

https://blog.uad.ac.id/lestari1300012156/sejarah-arti-nama-indonesia/