Gerakan Bangsa Indonesia

Gerakan Bangsa Indonesia

Gerakan Bangsa Indonesia

Gerakan Bangsa Indonesia
Gerakan Bangsa Indonesia

Tulisan ini berawal dari pengalaman sewaktu saya berada dalam kerja kelompok.

Kebetulan waktu itu saya berada dalam satu kelompok yang sangat beragam (satu pria Sikh dari India, satu wanita berhijab dari Oman, satu wanita kulit hitam dari Kanada, dan satu gadis dari China).

Dalam kerja kelompok ini, saya mengetahui bahwa persepsi rekan Oman terhadap orang Indonesia adalah ramah, sopan, tapi kebanyakan kurang berpendidikan. Karena memang kebanyakan orang Indonesia yang berada di Oman bekerja sebagai PRT (faktanya juga banyak orang Indonesia menjadi PRT di timur tengah). Rekan saya tersebut bahkan bisa beberapa kosa kata bahasa Indonesia, karena dia mempelajari dari PRTnya. Persepsi tersebut membuat dia jadi bertanya-tanya dengan cukup skeptis, bagaimana saya bisa bersekolah bersama dia. Hal ini cukup menyesakkan dada, namun karena orangnya sangat sopan dan baik, keterbukaannya tidak berasa offensif. Selain itu, dia juga bercerita sisi positifnya Indonesia, yaitu punya Bali yang sangat indah. Sehingga kesan Indonesia dalam cerita dia masih imbang positif negatif. Setidaknya, ini pertama kalinya saya mendapat kejujuran dari rekan di dunia lain secara sopan (rekan saya dari Kenya pernah bercerita kalau seorang British di kelompoknya mengeluh, great, I am in a group with Africans).

Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, kebanyakan orang memang menghakimi dan melakukan stereotyping ketika bertemu orang lain. Itu memang sifat dasar, sifat manusia sebagai primata.

Di sini saya sebetulnya cukup sedih, karena masih ada yang memandang Bangsa Indonesia sebelah mata.

Selain itu, saya pernah juga berkumpul bersama rekan-rekan dari Jerman, Meksiko, Korea Selatan, dan China, mereka membahas World Cup dengan penuh antusias. Kemudian salah satu rekan saya menyeletuk, bangga sekali negaranya bisa masuk ke World Cup, disiarkan di seluruh dunia, apalagi dari ratusan negara anggota FIFA, hanya puluhan yang bisa berkompetisi. Kebetulan, hanya saya satu2nya yang berasal dari negara yang jangankan masuk World Cup, sepak bola termasuk supporternya saja masih di abad kegelapan.

Selain itu juga, kebetulan program studi saya berisi orang-orang dari sektor energi, terutama migas. Aberdeen memang terkenal sebagai pusat migasnya Eropa dan tempat berkumpulnya orang2 migas. Rekan-rekan saya berpengalaman kerja di perusahaan energi (dan terkait) kelas dunia seperti Shell, Chevron, BP, Schlumberger. Setiap kali saya memperkenalkan diri bekerja di Pertamina, sejauh ini belum ada yang tahu apa itu Pertamina. Saya harus menjelaskan bahwa pertamina merupakan NOC terbesarnya Indonesia dan masuk dalam fortune global 500. Tapi itu tidak membantu, mereka bahkan tidak terkesan dengan fortune. Sedihnya, kebanyakan dari mereka tahu Petronas, dan saya hanya bisa bilang, ya, itu milik Malaysia.

Dari sini saya sangat memahami, dan hal ini sangat mengena sekali hingga ke lubuk hati terdalam, bahwa image Bangsa itu sangat penting. Di luar sana, banyak yang tidak peduli siapa itu Pak Habibie atau Bu Sri Mulyani. Kebanyakan orang cenderung melakukan generalisasi berdasarkan apa yang umum terjadi.

Sama seperti ketika kita melihat orang Jepang, yang akan muncul di benak kita adalah Robot, Manga, Anime, dan asumsi kita pasti orang Jepang itu unik-pintar-cerdas-inovatif. Penyebabnya bukan karena satu orang Masashi Kishimoto membuat manga, tapi karena satu bangsa Jepang konsisten menjadi unik-pintar-cerdas-inovatif. Banyak sekali orang Jepang menciptakan manga-manga yang luar biasa kreatif dan berhasil memasarkannya ke seluruh dunia. Jadi kesimpulannya, image bangsa Jepang diciptakan oleh satu bangsa, bukan segelintir orang.

Jadi kesimpulan saya, untuk mengangkat derajat Bangsa itu tidak cukup seorang Pak Habibie atau Muhammad Zohri. Pengangkatan derajat ini harus dijalankan secara sistemik satu Bangsa, dan dipasarkan secara global.

Misalnya, para pemimpin BUMN bahu membahu membesarkan BUMNnya, para dosen bahu membahu membesarkan lingkungan akademisnya, warga dan wisatawan domestik bahu membahu menjaga kesan positif tempat wisata, anak-anak muda bergerak bersama menjadi lebih tertib, berwawasan luas, dan produktif berkarya. Semuanya harus bergerak secara bersama dan sistemik. Ini harus menjadi gerakan nasional seluruh bangsa.

Bahu membahu, bukan saling menjatuhkan. Saling mendukung untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Semuanya harus satu visi: Demi kebanggaan generasi penerus Bangsa Indonesia.

Kasihan jika nanti anak cucu kita di masa depan memperkenalkan dirinya sebagai orang Indonesia di depan orang Oman, dan mereka masih dipersepsikan sebagai bangsa PRT. Biarlah cukup Dilan saja yang menanggungnya…

*Saya sendiri akan berusaha berbuat sesuatu untuk hal ini. Saya yakin, setidaknya saya akan menyumbangkan sesuatu untuk gerakan ini.

Baca Juga :