2024, 11 Universitas Harus Masuk 500 Besar Dunia

2024, 11 Universitas Harus Masuk 500 Besar Dunia

2024, 11 Universitas Harus Masuk 500 Besar Dunia

2024, 11 Universitas Harus Masuk 500 Besar Dunia
2024, 11 Universitas Harus Masuk 500 Besar Dunia

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir

mengatakan, pemerintah akan meningkatkan alokasi dana abadi riset dan dana khusus untuk pendidikan tinggi untuk mendorong perguruan tinggi (PT) masuk 500 terbaik dunia.

Nasir menuturkan, diusulkan untuk tahun 2020 dana khusus ini senilai Rp 10 triliun untuk membiayai riset PT serta kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas. Seperti diketahui, berdasarkan data Kemristekdikti, baru ada tiga PT Indonesia yang masuk 500 besar Quacquarelli Symonds (QS) World University yakni Universitas Indonesia (UI) pada peringkat 292, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada peringkat 359, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada peringkat 391. Padahal, total keseluruhan PT Indonesia mencapai 4.741 tersebar di seluruh Indonesia.

“Kami targetkan pada 2024 ini ada 11 PT yang masuk 500 besar dunia. Saat ini baru ada tiga, jadi dengan meningkatkan dana khusus maka PT yang saat ini berada di urutan di bawah 500 didorong untuk masuk 500 besar dunia,” kata Nasir usai memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019 di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (2/5/2019).

Selain target meningkatkan jumlah PT terbaik. Nasir juga akan meningkatkan angka partisipasi kasar

(APK) PT melalui peningkatan sistem pendidikan jarak jauh (PJJ). Pasalnya, saat ini APK pendidikan tinggi Indonesia baru mencapai angka 34,58%. Artinya, masih terdapat sekitar 65% anak Indonesia yang tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan tinggi. Kemristekdikti menargetkan APK akan meningkat hingga 50%.

Untuk itu, Nasir menyebutkan, pihaknya akan melakukan perubahan-perubahan. Selain kuliah yang sudah dilakukan secara konvensional, Kemristekdikti juga akan memperbanyak PJJ.

“Kita harus mengembangkan kuliah secara online. Ini yang harus kita dorong supaya peningkatan makin banyak yang jumlah mahasiswa,” ujarnya.

PJJ menurutnya adalah solusi untuk menyelesaikan APK pendidikan tinggi. Oleh karena itu, revolusi

yang harus dihadapi adalah sistem pada saat sekarang harus dilakukan dengan online education dan kampus siber, dengan tetap mengutamakan kualitas pendidikan.

Pada kesempatan sama, Nasir menuturkan, pada era teknologi informasi ini banyak pekerjaan diganti oleh teknologi otomatisasi. Maka, PT harus beradaptasi dengan perubahan tersebut agar tenaga kerja yang dihasilkan bisa berdaya saing.

Nasir menuturkan, selain kualitas PT, daya saing dosen juga dikembangkan melalui peningkatan literasi. Tidak cukup dengan literasi baca, tulis, hitung (calistung) tetapi juga literasi data, teknologi, dan keuangan hingga kebudayaan.

“Harapannya kami bisa menyiapkan SDM yang berkualitas agar pembelajaran juga tak berhenti sampai kuliah, sampai kapan pun harus terus belajar,” ujarnya.

Untuk kesiapan dosen, Nasir menuturkan, pihaknya telah menginstruksikan kepada Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) bersama Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID) untuk melakukan focus group discussion (FGD) untuk meningkatkan kualitas para dosen yang ingin memasuki pada kuliah daring.

“Ini harus kita lakukan training, nanti kita clustering. Nanti dari FGD setelah itu tahapan berikutnya training kampusnya untuk menyiapkan infrastruktur studio. Berikutnya adalah sistem kuliah daring, lalu para dosennya. Nanti kita koordinasikan para rektor di PT yang ada di Indonesia,” ujarnya.

 

Baca Juga :